 | Semua bermula dari... | Nov 26, 2008 |
...ketika band rock n roll nomor wahid di Indonesia SLANK beserta Slankers Indonesia mendirikan sebuah Posko guna membantu menanggulangi korban bencana Gempa Bumi 5,9 SR yang menguncang dan meluluh-lantakkan hampir seluruh wilayah Bantul Jogjakarta 27 Mei 2006 yang lalu.. Posko yang kemudian diberi nama posko Slank Peduli Jogja ( SPJ ) sendiri berada di sebuah dusun yang terletak sekitar 14 km sebelah selatan kota Jogja, yakni dusun Singosaren Wukirsari Imogiri dimana kebetulan Maspoer ketua dari Slankers Cyber Community tinggal. Pada awalnya posko SPJ didirikan dengan maksud ingin membantu korban gempa melalui pelayanan kesehatan ( DR Ismu slankers Surabaya relawan pertama yang datang ) bantuan makanan dan keperluan sehari-hari ( dikoordinir langsung Pulau Biru Indonesia ), membuka dapur umum ( Ca' Ur pemilik warung legendaris Potlot ), pasukan 'bedah rumah' ( Badax is number one ) juga beberapam pertolongan tanggap darurat lainnya. Pada perkembangannya, karena demi melihat keadaan korban khususnya anak-anak banyak yang mengalami trauma, ditambah lagi dengan terhentinya segala kegiatan belajar di sekolah karena hampir seluruh bangunan sekolah hancur gak ada yang berdiri tersisa, maka beberapa oknum slankers yang dikomandani oleh Udin ( slankers Jogja yang sedianya akan diwisuda sarjana psikologi, tepat di hari kejadian ) tercetus ide untuk menampung anak-anak di halaman masjid yang berada di belakang posko SPJ guna sekadar menghibur dan bersama-sama berbagi rasa. Dari sinilah semua bermula. Anak-anak begitu gembira dengan dibukanya 'sekolah darurat; tsb. Dengan antusias wajah-wajah pucat, letih, sedih, cemas itu sedikit demi sedikit mulai bisa tersenyum. Selang beberapa hari bala bantuan relawan datang dari Jakarta. Istimewanya, Bunda Iffet dan Oom Sidharta ada diantara mereka, bahkan sempat menginap di tenda darurat, dan sempat merasakan beberapa gempa susulan yang memang masih sering terjadi mengiringi gempa dasyat sebelumnya. Bunda , mbak Shanti juga Tanti sempet pula berbaur dengan anak-anak, Tanti merasakan pula jadi guru untuk 2 hari itu. ( gak ada kata lain selain "salute" untuk semua terutama Bunda Iffet ) Begitulah seiring waktu berlalu, keadaan pun berangsur pulih, hingga akhirnya kehidupan kembali normal ( trauma sudah berkurang, gedung2 sekolahan baru sudah kembali berdiri ) sekolah darurat itupun merubah dirinya menjelma menjadi sebuah SANGGAR yang mengalami perluasan fungsi sebagai tempat berkumpul dan bermain serta wadah mengembangkan bakat anak-anak juga remaja dusun tersebut.